0

Bromo Trail Juni 2019, My First Trail Adventure


Jadi jalur trail pertama saya adalah Bromo. Menyusuri lautan pasir dan menyisir punggung bukit pengunungan yang mengelilingi Gunung Batok hingga tembus ke Jemplang (persimpangan antara ke Bromo atau Ranu Pane). Adalah perjalanan nge-trail pertama yang sangat berkesan. Sekali lagi, never underestimate yourself.

0

Explore Benteng Kedung Cowek Melalui Jalur Laut Bareng Komunitas Love Suroboyo



Beberapa hari setelah Idul Fitri 1440 H saya sudah harus kembali ke Surabaya lebih cepat dari jatah libur normal penanggalan nasional setelah meng-enakan diri bertemu keluarga tercinta di Jogja. Kebetulan paginya setelah saya sampai di Surabaya ada semacam silaturohmi lintas komunitas yang awalnya saya pikir halal bi halal bertempat di Hotel Majapahit. Belakangan saya tahu kalau ternyata ini adalah pertemuan komunitas lintas sejarah yang fokusnya pada pembahasan Benteng Kedung Cowek. Yah sebelumnya emang terdengar kabar yang santer sih kalau lahan Benteng Kedung Cowek ini telah berpindah tangan ke pihak swasta, tapi untuk kejelasan dan kepastian siapa pemiliknya juga masih abu - abu. Kebetulan sekali saya sejak dulu juga penasaran banget sama Benteng Kedung Cowek ini jadi perjalanan kita mulai dari sini.

Sabtu, 9 Juni 2019 acara ini diselenggarakan dengan tema "Benteng Kedung Cowek, Sebuah Fragmentasi Berkelanjutan". Banyak hal yang dibahas di sini seperti sejarah benteng, perbandingan dengan benteng - benteng jaman dahulu di beberapa daerah di Indonesia, pandangan beberapa audiens, dan sampai ide - ide bagaimana benteng ini akan di bawa kedepannya tentunya yang sejalan dengan pelestarian sejarah dan daerah cagar budaya. Ternyata, Benteng Kedung Cowek ini statusnya masih belum ditetapkan sebagai bagunan cagar budaya. Benteng Kedung Cowek Belum Berstatus Cagar Budaya. Hal ini tentunya wajar jika menimbulkan kekhawatiran bagi banyak pengiat sejarah. Maka dari itu seminggu kemudian atas inisiatif peserta yang hadir dalam diskusi, disetujui untuk dilakukan kerja bakti bersih - bersih Benteng Kedung Cowek ini.

Foto By : @edoniarjerypratama

Bertepatan dengan acara halal bi halal Komunitas Love Suroboyo yang berada di Angkringan Matahari, sebelah ujung Jembatan Suroboyo yang juga dilaksanakan tanggal 16 Juni 2019 maka kami beberapa team membagi diri untuk sekalian explore Benteng Kedung Cowek terlebih dahulu dan beberapa mengikuti kegiatan kerja bakti yang dilakukan bersama - sama oleh komunitas penggiat sejarah dan masyarakat sekitar. Nah yang beda adalah kami dari Komunitas Love Suroboyo menuju Benteng Kedung Cowek ini melalui Jalur Laut.

Nah perjalanan dimulai dari Taman Suroboyo sekaligus melihat icon baru Surabaya yaitu Patung Suroboyo yang barusan diresmikan sebagai hadiah ulang tahun ke 726 Kota Surabaya. Ternyata keren pek Patunge Suroboyo iki. Difoto apik, digae background foto ya bagus. Iconik banget lah buat nunjukin ini loh Surabaya. Mlipir ke pantainnya dengan pemandangan beberapa perahu standby dan beberapa lalu lalang di laut yang mengantarkan beberapa orang menyusuri laut menuju bawah jembatan Suromadu. Kebetulan weekend dan ramai.


Nah perjalanan team menggunakan 2 perahu yang berisikan sekitar 10 orang per perahu. Kebetulan kalau saya tidak salah bersama Bapak Nanang Purwono, Penulis Sejarah Surabaya yang juga ngisi di acara seminggu yang lalu di Hotel Majapahit bersama team beliau dari JTV ikut dalam rombongan kami. Nah, jalur laut yang ditempuh adalah jalur sepanjang pinggiran Pantai Kenjeran menuju ke arah Jembatan Suromadu. Dari sini kita bisa meliat betapa gagahnya patung Suroboyo di Taman Surabaya. Beranjak sedikit ada Masjid Al Mabrur yang digunakan masyarakat setempat untuk memantau hilal guna menentukan bulan baru dalam penanggalan islam, tentunya untuk rukyatul hilal penentuan awal dan akhir ramadhan juga. Maju lagi kita akan menemui bangunan besar semi jadi yang ternyata itu adalah lapangan tembak bertaraf internasional yang dibangun oleh pemerintah kota Surabaya.


Nah mulai dari setelah ini di bagian sisi pantai sedikit kedalam terlihat puing - puing bangunan yang diyakini ini juga adalah benteng berdampingan dengan Benteng Kedung Cowek juga. Jadi di sekitaran daerah ini dulunya adalah benteng - benteng yang melindungi Kota Surabaya dari serangan laut. Dan, Benteng Kedung Cowek lah yang terlihat masih kokoh berdiri sampai sekarang. Maka dari itu akan sangat disayangkan jika benteng ini tidak dijaga dan ditetapkan sebagai cagar budaya terlebih jika bangunan ini bakalan hilang eksistensinya karena bukan lagi menjadi wewenang dari pihak pemerintah kota ataupun militer dalam hal kepemilikannya.


Beberapa meter sebelum bawah Jembatan Suromadu kami berhenti, dan inilah jalan darat kami setelah melalui jalur laut. Nah dari sini saya baru tahu kalau letak benteng ini adalah di sisi timur pojokan dari Jembatan Suromadu. Gampangnya kalau dari arah Madura setelah habis Jembatan Suromadu dan memasuki wilayah Kota Surabaya langsung aja tengok ke kiri, daerah sinilah yang merupakan Benteng Kedung Cowek. Kata orang sih benteng ini tak terlihat seperti benteng dari kejauhan. Tampak hanya sebuah tumbuhan semak dan hutan di pinggir pantai saja.

BENTENG KEDUNG COWEK


Beberapa meter saja dari bibir pantai setelah batuan yang mungkin untuk memecah ombak atau sengaja dibuat sebagai pertahanan benteng saya juga kurang tahu, terlihatlah sebuah benteng yang besar dan terlihat kokoh walaupun banyak ditumbuhi tumbuhan liar dan lokasinya memang kurang terawat. Benteng ini pun cukup luas tetapi sayang saya tak masuk atau mungkin tak boleh atau entahlah tak ada fikiran masuk lebih jauh juga saat itu ke dalam Benteng dan melihat bagaimana dalamnya. Hanya sempat melihat dari celah di bagian atas benteng tapi gelap di dalam dan tak terlihat apapun oleh saya.

SEJARAH BENTENG KEDUNG COWEK

Kalau ngomongi sejarah, bisa dibilang saya lemah karena otak saya seakan tak bisa menampung banyaknya info yang juga bermacam - macam dari banyak pihak yang pasti punya data dan dasar masing - masing. Cuma mungkin beberpa hal yang saya tangkap dari pertemuan di Hotel Majapatit 9 Juni kemaren, Benteng ini adalah peninggalan Belanda yang tak sempat digunakan amunisinya kemudian berpindah tangan ke Jepang karena Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang sekitar 1942an ya kalau gak salah. Belum sempat digunakan juga oleh Jepang kemudian Benteng ini diambil alih oleh Indonesia setelah kemerdekaan oleh pasukan yang menamakan dirinya Batalyon Sriwijaya yang muaranya digunakan pada saat pertempuran melawan Inggris saat mempertahankan kemerdekaan pada Pertempuran 10 November 1945. Dimana dari sini juga menjadi kekuatan tempur Indonesia yang berhasil menembak salah satu pesawat Inggris yang digunakan untuk memantau jalannya perang 10 November kala itu dan salah satu korbannya adalah Brigjen Guy Loder Symonds.

Menurut beberapa literasi juga tertulis dari perang 10 November khususnya pertempuran yang terjadi di lokasi benteng ini, terdapat sekitar 200 orang gugur tanpa sempat dievakuasi jenazahnya karena gencarnya serangan pasukan Inggris. Sedangkan benteng ini sendiri baru berhasil dikuasai oleh Inggris pada 27 November 1945 dengan data sekitar 400 ton amunisi yang belum sempat ditembakan. Dapat dilihat langsung saat berada di lokasi ini, tembok - tembok benteng dengan bekas tembakan peluru terlihat masih sangat jelas dan seperti membawa kita flashback pertempuran waktu itu.

Al-Fatihah untuk para pahlawan yang telah gugur dalam pertempuran tersbut.

 

Cukup segitu kali ya sejarah singkat benteng ini, nanti kalu saya sudah dapat bukunya saya mungkin akan tuangkan kembali di sini sesuai pemahaman saya dan semoga sejalan juga dengan sejarah yang ada.

KERJA BAKTI BERSAMA KOMUNITAS PENGGIAT SEJARAH

Acara kerja bakti dilakukan agak siang dan karena waktu tunggu perahu kami hampir habis, maka kami harus pulang dahulu kembali ke Taman Suroboyo. Team lain yang memang ikut dalam kegiatan kerja bakti datang terpisah juga dari rombongan kami yang lewat laut, mereka bersama - sama Komunitas Sejarah melakukan kegiatannya melalui jalur darat yang sebenarnya saya malah gak tahu aksesnya jika lewat darat. Tetpai akses di area ini memang tak dibuka untuk umum. Hanya untuk kegiatan yang berizin saja atau dari komunitas mungkin. Kalau dulu sih rumornya tempat ini dijaga agar tak ada orang dari luar yang seenaknya keluar masuk karena merupakan daerah terbatas.

Kegiatan kerja bakti ini dapat dilihat di Liputan Team Love Suroboyo melalui link berikut : Aksi Komunitas Penggiat Sejarah bersama Masyarakat sebagai kepedulian terhadap Benteng Kedung Cowek.

Foto By : @abid_aboned

Sebagai bentuk kepedulian terhadap Benteng Kedung Cowek ini, juga disepakati oleh komunitas penggiat sejarah dan warga sekitar pemasangan plakat peraturan penetapan Bagunan Cagar Budaya yang ditempel di dinding benteng. Harapannya pihak - pihak terkait seperti Pemkot Surabaya untuk segera menetapkan Benteng Kedung Cowek ini sebagai bangunan cagar budaya.


LANJUT HALAL BI HALAL KOMUNITAS LOVE SUROBOYO

Menuju kembali ke Taman Suroboyo, kami lalu melanjutkan kegiatan dengan ramah tamah di Angringan Matahari dalam acara halal bi halan Komunitas Love Suroboyo. Kumpul bareng, ngobrol, makan santapan khas daerah setempat, menikmati suasana pesisir dan juga suasana hangatnya kekeluargaan, menjadi penutup kegiatan hari ini yang istimewa sekali. Matur suwun hari ini, semoga kegiatan - kegiatan lebih postif bisa sering saya ikuti dan rasa kekeluargaan seperti ini selalu hadir dan longlast di sekitar kita. Aamiin.

Foto By : @moh.imron.rosyadi

Nah kegiatan lengkap kami explore Benteng Kedung Cowek dapat diintip di Youtubenya Love Suroboyo, Love Suroboyo Official. Monggo, jangan lupa subscribe, like, dan share ya. Matur Sembah Nuwun. :)



0

3 Bulanku Bersama Komunitas Love Suroboyo


Akhirnya bisa nyenden juga nyempetin nulis ini setelah beberapa deadline ditambah kondisi kejiwaan yang naik turun karena mood yang gak karuan dan keadaan sekitar yang mengharuskan saya muter muter ngalor ngidul. Ini serius tak bilangin capeknya tuh gak di raga aja tapi di jiwa juga, ah sudahlah, hahaha. Ininya i’m in a good mood right now, jadi mari berbagi sedikit cerita tentang saya dan Love Suroboyo selama 3 bulan ini.

Flashback (Unce Upon A Time In Ramadhan 1439)

Kata orang tak kenal maka tak sayang, mungkin penting untuk tahu bagaimana saya bisa mengenal Komunitas Love Suroboyo. Entah bagaimana ceritanya semesta membawa saya kepada sebuah komunitas bernama Love Suroboyo (LS) ini. Tak bisa saya ingat secara pasti kapan mengenal komunitas ini tapi yang jelas saya mulai ada rasa sejak bertemu pertama dengan Mas Shandy Setyawan a.k.a Minin LS (Maksudnya ada rasa sama Love Suroboyo bukan sama Mimin LS. Tolong netizen yang budiman agar tidak memotong maksud dari kata-kata saya apalagi memframing cerita yang tidak sesuai faktanya. Hahaha. Lagi musim gini sih makanya ati-ati aja.).

Waktu itu Ramadhan 1439 H, memasuki malam ganjil begitu adzan maghrib berkumandang kalau tak salah malam 21 atau 23 ya, atau 25, mungkin 27, saya beneran lupa pastinya. Beberapa menit sebelum itu saya bertemu Mimin LS di Masjid Cheng Ho Surabaya. Awalnya sih mau bukber sama beberapa temen di Delta Plaza. Karena saya pikir bakalan susah cari tempat sholat di sana makanya saya membelokan diri ke masjid ini yang kebetulan teman saya yang juga anggota LS 1, Herdiyanto Tri Agustian a.k.a Tian ada disana yang kebetulan juga bersama Mimin LS ini.

Jadi awalnya saya dengerin obrolan mereka dan kemudian nimbrung saat ngomongin kegiatan bukbernya LS yang sukses sama beberapa ngomongin sponsornya darimana dan waktu itu liputan hotel yang saya dulu gak paham apa sih liputan hotel yang dilakuin sama LS itu. Mimin LS cerita banyak, saya sesekali bertanya degan maksud menggali informasi bagaimana komunitas ini, cara kerjanya, karena awalnya saya hanya tahu LS itu ya Mimin LS saja. Seperti single fighter mengurus komunitasnya sendiri. Lama kelamaan saya sedikit tahu dan yah bisa dibilang sedikit mulai tertarik.

Singkat cerita kami bertiga duduk menunggu adzan berkumandang, lalu Mimin LS  berdiri, saya pikir mau ngapain ternyata live IG, nge-live-in suasana berbuka di Masjod Cheng Ho. Pikirku idenya keren juga ya. Ada aja ide dan bahan sederhana yang bisa dipake buat ngangkat Surabaya. Dan ini pertama kalinya juga saya tahu behind the scene nya live IG Love Suroboyo. Setelah pertemuan tersebut saya kembali pada rutinitas biasa seolah tak terjadi apa-apa dan saya pun tetep jarang ngepoin IG nya Love Suroboyo. Haha.

Flashback (Break)

Beberapa waktu kemudian berawal dari kemonotonan hidup saya berusaha mencari hal baru. Basicly saya suka banget sama traveling dan sadar beberapa waktu setelah lama kesana kemari tanpa adanya pengabadian momen yang keren, saya berfikir untuk memiliki kamera (elek-elekan) yang bisa menunjang blog saya. Oh iya fyi, saya suka ngeblog dan mengabadikan cerita perjalanan saya dalam beberapa kata dan gambar. As a reminder aja buat saya supaya gak lupa karena saya tahu otak saya gak akan mampu menampung begitu banyak moment spesial yang pernah saya lalui. Kalau mau tahu bisa mampir aja di kagung13.com sini.

Singkatnya alhamdulillah kebelilah sebuah kamera dan bisa tak gunain sebagai “konco dolan”. Tapi mungkin semesta berkata lain, saat saya pikir semuanya sudah siap buat mulai jalan jauh lagi, saya mulai kehilangan waktu dan semangat sama jalan – jalan yang jauh itu tadi ditambah konsentrasi yang mulai pecah sama kerjaan, kehidupan sosial, dan banyak lainnya yang entah kemudian membuat saya berfikir, “Kenapa gak keliling Surabaya aja, Surabaya keren juga kok”. Dari situ saya mulai berfikir mengenal lebih dalam kota yang telah hampir 5 tahun menerima saya dengan segala asem manisnya. Saya lalu banyak menggali info tentang Surabaya dan entah bagaimana bisa sama sama Tian jadi team hore untuk ide saya eksplore Surabaya.

Sejak saat itu, kemudian blog saya dipenuhi beberapa tulisan tentang Surabaya, walaupun temanya tetap saya balut dalam traveling, saya mulai menyukainya. Saya mulai membuat juga beberapa video (receh) 1 menitan setiap saya mengunjungi tempat – tempat di Surabaya. Waktu itu lagi seneng – senengnya saya posting di instagram, youtube, dan tak embeded kan di blog saya juga. Boleh juga dilihat di youtube beberapa videonya di channel KA Pamungkas.

Nah, singkat cerita (gak singkat sih, ini mah panjang lebar, hehe) saya dapet DM dari Mimin LS yang minta izin repost video saya. Tapi saya lupa nih video mana yang pertama di repost ya, antara Video Perahu Malam Kalimas atau House Of Sampoerna. Pokonya salah satu dari itu. Singkatnya saya mulai kepo lagi kegiatan di LS, sampai pada kegiatan Blusukan Eropa Jilid 3. Saya daftar kemudian masuklah ke group Follower Love Suroboyo yang saat itu juga pertama kali dibuat sama Mimin LS.

On the way shooting video perahu malam kalimas

Flashback (Jadi Followers Love Suroboyo)

Blusukan Love Suroboyo Kampung Eropa Jilid 4
 
Masuk di group follower, seperti biasa di group mana saja saya selalu konsisten jadi silent reader setelah memperkenalkan diri di awal. Saya kemudian tahu pertama kali Anggraeni Septi a.k.a Mbak Septi yang dengan PD nya bilang, “Saya blogger, ada yang blogger juga disini?”. Mau jawab tapi sungkan, aku mah apa blogger abal – abal. Haha, jadi seperti biasa saja ikutin saja alurnya. Setelah blusukan tentu saja saya bikin reminder moment dong dengan nulis dan buat video (Blusukan Kampung Eropa Jilid 4 Bersama LoveSuroboyo) yang mana tulisan itu kolaborasi sama Mbak Septi bisa masuk di websitenya LS (lovesuroboyo.org). Lanjut kemudian saya sama beberapa follower mulai akrab, dari yang tadinya pendiam jadi mulai banyak omong dan suka ngajakin atau teracuni jalan – jalan bareng eksplore Surabaya. 

Banyak orang – orang hebat saya kenal di group ini, banyak cerita dan suka dukanya juga. Ada drama yang sebenarnya settingan tapi yang nyeting tenyata beneran melewati dramanya di dunia nyata (Hahaha, kamu kuat bro, semua orang punya dramanya masing – masing so enjoy it, semua bakal berlalu pada akhirnya sebagai keseimbangan hidup). Sampai bener – bener ditinggal sama salah satu temen yang saya inget dulu bareng sama Raffi, Dessy, Nafil, dan Saya ke Musium Etnografi di Kampus UNAIR Dharmawangsa. Al – Fatihah buat Mbak Iyem semoga khusnul khotimah. Aamiin.

Flashback (Open Recruitmen LS Angkatan 3)

Jujur awalnya saya ngerasa cukup lah jadi followernya LS, disini toh saya juga bisa berkontribusi buat Surabaya sambil ngembangin diri. Kemudian atas bujukan dari beberapa pihak akhirnya saya daftar aja. Waktu itu dibuka 4 divisi yaitu Liputan, Conten Writer, Design, dan Humas. Awalnya saya pingin daftar di humas karena satu – satunya yang belum pernah saya coba adalah humas. Asik kali bisa belajar hubungan langsung sama orang karena udah familiar juga sama liputan, nulis, dan design. Tapi entahlah bagaimana ceritanya saya apply yang liputan sama content writer.

Singkatnya saya melewati tahap wawancara dan challenge dengan lancar. Wawancara di taman prestasi dimana setiap jawaban yang keluar dari mulut saya adalah jawaban spontan yang tak saya pikir panjang tapi yah basic saya suka ngarang, akhirnya kespontanan itu bisa saya framing dengan beberapa kalimat mengarang bebas jadi tak terkesan spontan – spontan amat.

Di challenge sebenarnya saya kesulitan mengatur jadwal tetapi semuanya dimudahkan sampai pada saat pengumpulan tugas, ndelalah saya ketiduran di malam sebelum hari pengumpulan tugas dan belum mengerjakan sama sekali tugasnya padahal deadline jam 17:00 dan saya bangun pukul 06:30 dan harus langsung berangkat kerja. Akhirnya bener – bener ngefisiensiin waktu luang di sela – sela kerja buat edit dan bisa ngirim itu tugas di pukul 16:50 an. Saya pikir mungkin ada extra time tapi saya orangnya gak tenangan kalau melewati jam deadline + injury time, jadi saya mending mevet daripada jatuhnya ke extra time. Jadi beban hati gak sih kalau telat – telat gitu, saya sih yes. Hehehe. Tapi kalau injury time 5 – 10 menit masih oke lah ya kan?

Challenge Oprec Love Suroboyo Angkatan 3

Tibalah hari pengumuman dan tercantumlah nama saya. Awal kami yang diterima dimasukin di group followers dimana kalau boleh saya bilang itu rumah pertama saya, dan pada saat perkenalan di group besar, saya harus out dari group follower. Nah disini saya sedikit baper, padahal saya orangnya gak baperan. Haha. Day by day passed kemudian masuklah kami Angkatan 3 semua ke group besar.

Masuk Group Besar Love Suroboyo

Udah cukup kali ya flashback mulu sampai 4 episode. Hehe. Awal masuk kami memperkenalkan diri satu per satu dan seperti layaknya sopan santun di group baru. Hari demi hari berlalu dengan banyak notifikasi baru yang sebenernya saya kesulitan untuk mengkuti. Tapi saya sempatkan baca satu per satu dan juga komentar beberapa kali. Mulai info liputan, evet, kegiatan LS dan lain sebagainya sampai guyonan receh hingga dolar saya temui juga di sini. Seperti biasa sebagai seorang yang (sok) sibuk dengan waktu kerja saya, terkadang beberapa event saya telawkan dengan sangat terpaksa. Yah mau gimana lagi. Sungkan sih sebagai anak baru kontribusinya kecil. Beruntungnya Mimin LS orangnya sabar dan sayang sama anak – anaknya jadi bisa maklumi lah (tapi saya yakin beberapa kali pasti mbatin juga kan mas? Hehehe, Peace.).

Meet Up LS Angkatan 3


Bertempat di Kebun Bibit Wonorejo, kami keluarga besar LS mengadakan meet up dalam rangka ramah taman dengan keluarga baru angkatan 3. Lagi – lagi saya harus telat karena jadwal pekerjaan yang tak bisa menyesuaikan. Tapi saya tetap datang setelah 8 jam begadang dan harus menempuh perjalanan Perak - Wonorejo. Lumazan lah. Hehe.

Saat diskusi kelompok kecil tiap divisi saya ngerasa jadi team penggenap pek (pupuk bawang). Banyak dari team youtube dengan ide – ide mereka mengutarakan pendapat dan bagaimana youtube LS ini bakalan dibawa dan jadi apa. Pemikiran yang cukup bagus. Gak cukup lagi sih tapi seriusan bagus. Kalau beneran terealisasi ini pasti bakalan keren. Semoga aja deh ya. Aamiin.

Entah kenapa saya jadi bagiaan orang yang takut ngomong kalau saya gak mampu ngerealisasiinnya. Itu kenapa juga saya orangnya lebih suka spontan dengan plan cukup (gak over) dalam suatu hal karena saya percaya ide briliant itu gak ada apa – apanya sama realisasi sederhana yang konsisten dan sesuai dengan ekspektasi minimalnya aja. Dan mungkin itu juga yang bikin saya banyak diam. Hehe. Jadi mungkin bukan karena jaim kali ya. Cuma saya lebih suka diajak terjun langsung ke lapangan. Dilapangan plan A bisa jadi X, plan X bisa jadi Q, dan begitu terus sampai alfabet hilang dari muka bumi ini. Hehe. Tapi ya gitu sekali lagi saya kudu menyesuaikan dengan jadwal pekerjaan shift saya. Hehe. Apalah saya yang hanya remahan peyek hasil digoreng di minyak sisa (jlantah). Hehe.

3 Bulan Saya Bersama Love Suroboyo

Saya pikir dari sekian banyak angkatan 3 saya adalah salah satu yang paling pasif pek. Haha, ya pasif ngomong di group, ya minim kontribusi, ya pokonya kalau ada rapor 3 bulanan fix saya bakalan dapet nilai jelek. Remidi pasti lah ya. Terburuknya gak naik kelas bisa aja. Haha. Min sepurane yo min.

Bareng Love Suroboyo dalam peringatan hari musik nasional di makan WR Soepratman

Tapi sejak bergabung saya dapet banyak info update tentang banyak hal. Saya juga sesekali terjun ke lapangan. Sesekali doang sih ya mungkin jujur karena saya harus ngatur jadwal shift dan waktu lain di luar LS. Saya mungkin harus sampai atur jadwal itu per jam nya. Jadi sok detail dan menghargai waktu nih. Haha. Tak inget - inget 3 bulan ini saya baru liputan ke Rumah Walikota (berkaitan jalan pemuda), Rujak Uleg, Kantor Gubernur (Apresiasi pemain timas U-22 asal jatim), Hotel Ciputra World (liputan ramdhan). Haha, dikit banget kan ya. Sepurane maneh lho min.


Sebenernya saya juga suka lho sama Persebaya. Beberapa match terakhir Liga 1 2018 Persebaya waktu itu saya juga datang langsung ke GBT lho, gak lupa juga foto sama Bu Pres yang cantik dong ya. Make baju kebanggaan Green Force yang berbagai macam modelnya. Dan ngoleksi juga beberapa Jerseynya salah satunya Jersey Pre-Season 2019 ini. Saya punya 1 yang warna putih, and i love it very much. Cuma mungkin kalau untuk liputan Persebaya saya masih sedikit  ragu. Saya ngerasa butuh orang besar dan hebat kayak Om Yos mungkin buat bikin berita tentang Persebaya. Lepas dari fanatisme, mereka juga yang harus berani bilang benar saat Persebaya atau Bonek benar walaupun seluruh media menghujat, dan yang berani bilang salah dan legowo saat Persebaya atau Bonek berada di situasi yang salah. And i’m not a person who suitable to do it.


Tapi saya bersukur disini sampai saat ini saya bisa banyak belajar walaupun hanya dari silent reader, saya rajin kok baca – baca info dari situ. Kalau pas sharing session saya pasti pantengin tuh dan inget – inget apa point pentingnya siapa tahu bisa diaplikasiin di kehidupan saya. Sama banyak kenal teman baru walaupun saya pikir masih belum bisa seakrab yang lainnya. Ketahuilah saya ini pendiam dan orangnya susah diatur. Haha, i do what i want, but  i’m still an introvert person. Mungkin kebawa kali ya karena saya ini orang jogja yang walaupun udah lama di Surabaya, tetep ae angel ceplas ceplos koyok wong Suroboyo. Hehe, tapi saya tetap mencoba.

Masih banyak Mas Shandy udah ngasih tugas yang briliant ini. Seketika group jadi melankolis dan rame. Saya juga banyak baca dan terkesan sama cerita senior – senior yang jelas super lah suka dukanya, perjuangannya, dan gak bisa dibandingi sama cerita saya yang masih 3 bulan ini apalagi yang kurang aktif. Hehe. Buat motivasi saya juga biar lebih semangat lagi di LS.

Overall saya makin suka dengan komunitas ini, dan tetep berusaha berkontribusi sesuai kemampuan saya. Jadi mohon bimbingan dan motifasinya nggih. Semoga bisa lebih baik lagi untuk saya dan LS juga kedepannya. Kalau boleh sedikit modif dan gabungin kata – katanya senior kemaren, “Kalau ada salah dalam saya berbicara (dalam hal ini tulisan saya), saya mohon maaf. Kita perbaiki sama – sama kesalahannya, bukan menjahui apalagi membenci orangnya. Karena sejatinya manusia tempatnya salah dan kebenaran hanya milik netizen yang budiman semata. Haha bercanda, Kebenaran hanya milih Allah Tuhan Yang Maha Esa.”

Sekian dan Terima Kasih sudah berkenan membaca cerita panjang kali lebar kali tinggi saya. Hehe. Kalian luar biasa.

2

Style Hitam Putih Untuk Traveling Saya


Traveling jadi salah satu hal yang menyenangkan dan membuat saya kecanduan. Selain untuk mengeksplore banyak hal baru, traveling bagi saya menjadi sebuah healing setelah beberapa periode berkutat dengan pekerjaan dengan segala intriknya. Itulah kenapa saya selalu menyempatkan diri untuk traveling, walaupun sekedar city trip saja. 

Nah saat traveling, hal yang menjadi fokus utama saya selain tujuan dan akomodasi adalah gear dan fashion. Awalnya sih saya bodo amat perihal fashion, tapi lama kelamaan ngiler juga pas liat feed instagram beberapa traveler yang udah malang melintang. Keren abis, bukan tentang lokasi travelingnya aja tapi juga apa yang mereka pakai dan bagaimana mereka memadukannya. Menurut saya, untuk menampilkan sesuatu yang keren, bukan perkara lokasi saja, kita sebagai objek hidup juga harus terlihat keren atau minimal menyatu dengan lokasi traveling kita. Jadi sedikit demi sedikit saya nyoba buat lebih eksplore fashion kayak apa yang cocok buat traveling tapi tetap nyaman dipake untuk saya pribadi.

Style Fashion Hitam Putih

style-hitam-putih

Praktis dan simple adalah hal yang paling banyak dicari saat ini. Begitu pula dengan fashion, termasuk pemilihan warna dan corak. Saya sendiri lebih suka dengan warna yang cenderung gelap atau perpaduan hitam putih (monochrome fashion). Menurut saya monochrome fashion lebih bisa diterima di banyak kesempatan dan jarang sekali membuat saya gagal percaya diri. 

Style Hitam Putih Untuk Traveling

traveling-style-hitam-putih

Begitu juga saat traveling, saya sangat suka menggunakan fashion hitam putih. Ada yang bilang style hitam putih itu seperti bunglon tapi tak berubah warna. Saya sih setuju sama pernyataan itu. Dia bisa menyesuaikan di banyak kondisi dan lokasi. Tetap keren tapi simple dan elegan. Dan yang terpenting, kenyamanan adalah hal utama bagi saya untuk menentukan style hitam putih casual yang bakal saya pilih untuk kegiatan traveling saya. Kenapa casual, karena saya salah satu orang yang tak mau ribet. Hehe.

Mr. Brank, Brand Fashion Indonesia

logo-mr-brank

Beberapa waktu lalu saya dikenalkan dan kemudian berkenalan tentunya dengan salah satu brand fashion indonesia yang mengusung style hitam putih pria yaitu Mr. Brank. Adalah Nurul Eka Yulifah, seseorang dibalik brand yang mengusung 2 warna yaitu hitam putih ini. Bersama sang suami kesukaan terhadap 2 warna tersebut adalah hal yang melatarbelakangi dipilihnya konsep style hitam putih ini. Nama Mr. Brank sendiri tak memiliki arti khusus hanya sebuah plesetan dari bahasa jawanya kumis yaitu Brengos. Brengos menjadi Brank. Dapat dilihat dari logonya yaitu kumis topi yang menunjukan kesan manly.
 
soft-launching-mr-brank

Selain merupakan produk dalam negri buatan anak bangsa, keunggulan produk Mr. Brank adalah design yang update dengan penawaran harga yang ramah di kantong, menjunjung tinggi nilai kualitas prosuk mulai dari sablon bordir, sampai printing. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan owner Mr. Brank saat Soft Launching Mr.Brank di Gedung Wisma Ahmad Yani (17 Mei 2019).
Kami menjunjung tinggi kualitas mulai dari bahan yang nyaman sablon, bordir, printing, sampai produk  handmade. Desainnya pun mencerminkan gaya hidup anak muda pria yang kekinian, sportif, nyeleneh, story petualangan mencari pasangan dan berbagai quote yang bisa menertawakan diri sendiri.
Mr. Brank sendiri menawarkan beberapa produk mulai dari syal, topi, celana pendek, celana panjang, jaket, sweater, hoodie, t-shirt, kemeja, dan lain sebagainya mencakup fashion cloting anak muda jaman now. Produk - produk tersebut ditawarkan dengan harga bervariasi tergantung jenis produknya. Dengan rentan harga antara IDR 100.000 sampai IDR 1.000.000 kita bisa dapat produk style hitam putih casual ala Mr. Brank. Penasaran, langsung otw Instagram Mr. Brank aja.

Lanjut Traveling

Setelah beberapa waktu berkenalan tak lama kemudian saya mencoba langsung produk dari Mr. Brank untuk traveling tipis - tipis keliling kota. Hasilnya selain enak dipandang melalui hasil jepretan kamera, sepanjang perjalanan pun saya merasa nyaman dan asik mengunakan prosuk T-Shirt dari Mr. Brank ini. Padahal Surabaya sedang panas - panasnya siang itu.

traveling-dengan-style-hitam-putih

Hari yang menyenangkan, sekaligus healing saya dapat teman baru buat jalan - jalan buat traveling keliling kota seharian. Thanks Mr. Brank.

Mr. Brank, Style Hitam Putih Untuk Traveling Saya.
4

Air Terjun Sri Gethuk, Sebuah Oase di Padang Gersang


Sebuah air terjun di Gunungkidul yang ternyata keren juga. Yah walaupun boleh saya bilang tak sebesar Grojokan Sewu, Kapas Biru, atau Tiu Kelep. Hehe. Tapi, sebagai daerah yang banyak dianggap kering dan gersang, Gunungkidul ternyata menyimpan keindahan yang luar biasa. Air Terjun Sri Gethuk yang jatuh dan bermuara di sungai oyo ini, saya baca di beberapa literasi bahwa aliran air terjun ini tidak mengenal musim, artinya baik musim penghujan atau kemarau, aliran air akan tetap mengalir tanpa henti sehingga keindahnnya tidak akan pernah berkurang. Saat musim kemarau malah air terlihat sangat jernih dan dasar sungai pun bisa terlihat. Oleh karena itu sedikit hiperbola saya ibaratkan sebuah oase di padang gersang.:D

Sungai Oyo yang membelah beberapa daerah di Gunungkidul diantara bebatuan alam yang masih asli menjadi daya tarik yang keren menurut saya. Bukan hanya di satu lokasi saja tetapi banyak tersebar di sepanjang aliran sungai oyo yang melewati daerah Gunungkidul. Yah, tempat bermain saya waktu kecil beberapa ratus meter dari rumah juga ada. Dulu sewaktu kecil saya pernah ikut mencari ikan dengan jaring di sekitar lokasi tersebut yaitu sepanjang aliran kali oyo ini. Sungguh masa kecil yang bahagia. :D


Yes balik ke Air Terjun Sri Gethuk. Sewaktu saya SMK kelas 2, waktu itu rombongan hiking melalui jalur ke desa Bleberan tempat dimana Air Terjun ini berada. Sayang dulu saya tak terfikir menuju air terjun, takut karena tak bisa berenang. Saya berhenti di sebuah Goa bernama Rancang Kencono dimana sebagian romongan dipersilahkan ke air terjun tetapi saya memilih menunggu di sini. Dan beberapa tahun kemudian tempat ini jadi terkenal sekali.


AKSES DAN LOKASI

Air Terjun ini berada di Dusun Menggoran, Desa Bleberan,  Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul , Daerah Istimewa Yogyakarta. Kalau dari Yogyakarta cukup menuju ke Gunungkidul sampai di sebuah pertigaan besar bernama pertigaan Gading, ambil kanan menuju daerah playen lurus aja terus sampai ketemu Pasar Playen, lurus lagi nanti bakalan ada petunjuk arah menuju air terjun, belok kanan dan silahkan ikuti jalur berdasarkan petunjuk arah. Jelas kok jalan petunjuk arahnya.


Nah saat sampai di gerbang restribusi jangan buru buru menuju Air Terjunnya ya. Disini ini yang saya bilang diatas, Goa Rancang Kencono. Sebuah goa purba yang besar berada seperti di bawah tana. Tumbuh pohon besar di dalanya dan sebuah ruangan kecil dan beberapa jalur sempit yang tak tahu bakalan tembus kemana. Dulu waktu romongan hikking saya kesini ya kami keliling tempat ini sambil ndengerin warga setempat njelasin tentang goa tersebut. Tempatnya sejuk, asik, sepi, gelap, lumayan horor, tapi aman kok. Hehe.


Ow iya pas saya kemarin berkunjung tiket masuknya akan diberikan oleh petugas di gerbang restribusi kalau gak salah itu harganya 15.000 ya. Itu sudah termasuk masuk ke Goa Rancang Kencono.

Lanjut beberapa ratus meter lagi kedepan dan kita bakalan sampai di parkiran Air Terjun Sri Gethuk. Sampai sini menuju air terjun masih harus jalan lagi. Tapi tenang, ada 2 opsi kok. Bisa jalan kaki yang estimasi waktu paling 10 menitan atau naik perahu rakit melewati sungai oyo yang jaraknya gak seberapa jauh tapi lumayan asik kok. Monggo dipilih sendiri.

Lokasi awal / parkiran Air Terjun Sri Gethuk

Jalur Trekking

Jalur Perahu Rakit

AIR TERJUN SRI GETHUK


Air terjun ini terbentuk dari 3 sumber mata air yaitu Ngandong, Dongpoh dan Ngumbul yang mengalir dari ketinggian sekitar 50 meter dengan debit air sekitar 30 - 60 liter/detik. Air yang jatuh dari atas relatif jernih dan membentuk jalur yang berbeda sehingga menambah cantik air terjun jika dilihat dari posisi sebrang tebing.

Dan sampailah di Air Terjun Sri Gethuk. Masih ramai walaupun tak pas hari libur. Tempatnya lumayan asik, bisa main air sampai puas. Bebatuannya juga enak buat duduk duduk, debit airnya tak terlalu tinggi, dan hawanya gak dingin kok. Pas banget buat nyantai, ngobrol dan juga aktifitas menyantaikan diri.


Sampai bule juga datang ke sini. Sempet ketemu pas di gerbang restribusi cuma dia keburu ke Air Terjun sedang saya nyempetin dulu keliling Goa Rancang Kencono. Dan ketamu di sini, gak ngobrol sih, ketangkep kamera aja. Hehe. Seharusnya saya tanya kesan pesan dan beberapa pendapat tentang tempat ini ke dia, bakalan jadi cerita menarik kayaknya. Sayang gak tefikir waktu itu. (Lha mikir opo aku ki).


Cuma sayang pas saya kesini warna airnya keruh dikarenakan posisi musim penghujan. Jadi saya sarankan jika ingin berkunjung, carilah waktu yang pas yaitu awal atau akhir musim penghujan, atau sekalian pas musim kemarau sehingga airnya jerniah. Pada saat posisi air jernih, tempat ini asik banget buat berenang, buat lompat - lompatan dan sedikit atraksi. Ada tebing yang tak begitu tinggi yang pas buat loncat.


Overall keren tempatnya. Perpaduan air terjun, bebatuan, tebing, dan sungai dimana hampir di tiap lokasi bisa dijadiin tempat buat nyatai sampai lupa waktu. Hehe. Jadi tempat alternatif tempat liburan yang asik juga ditambah bisa mampir ke Goa Rancang Kencono. Nah adalagi di Desa Bleberan ini ada sebuah tempat yaitu situs prasejarah yang mirip dengan Situs Sokoliman yang pernah saya tulis juga. Dan tenyata saya baru ingat juga melewati dan pernah ke sini waktu rombongan hiking SMK dulu setujuan sama Goa Rancang Kencono dan Air Terjun Sri Gethuk. Sayangnya saya baru ingat saat menuliskan cerita ini. Haha.

TEAM PERJALANAN


Saya bersama sepupu saya yang searian itu jadi fotografer keren saya. Selain ngunjungi Air Terjun Sri Gethuk ini saya bersama dia yang kebetulan juga bernama Agung, menyempatkan diri nanjak ke Gunung Nglanggeran yang ceritanya udah sempet saya tulis di sini. Silahkan. Gunung Api Purba Nglanggeran, 700 Mdpl yang Menguras Jiwa dan Raga.

Terima Kasih. Jangan lupa buang sampah pada tempatnya ya. Salam Lestari.