Mungkin nama lokasi wisata yang satu ini terdengar lebih familiar dibandingkan dengan Watu Lumbung. Mengusung konsep yang hampir mirip, Wonosumilir lebih dahulu ada dan dikelola baik sampai saat ini. Waktu saya berkunjung bersama Bapak, saya melihat tempat wisata yang lebih rapi dan bagus secara pengelolaan. Mungkin karena tempat ini lebih dulu ada dan sudah sangat populer. Saking populernya sampai teman kerja saya yang di Surabaya pun tahu keberadaan tempat ini. Bahkan menanyakannya ke saya. Saya jawab saja, "Hehe, saya belum sempat pulang ke Gunungkidul, jadi belum tahu"


Sebagai warga lokal, kurang asik rasanya mengunjungi tempat wisata "belakang rumah" dengan cara yang mainsteam. Kudu agak beda biar ada cerita lokal yang bisa diketahui teman-teman lainnya. Saya memilih jalur hutan kayu putih untuk sampai di lokasi wisata ini. Sebagai warga lokal yang paham medan, tidak sulit bagi saya mencari jalan lain masuk hutan menuju lokasi ini. Apalagi ada Bapak yang jago segala medan di rumah sendiri. Hehe.

Akses dan Lokasi

Wonosumilir berada di Dusun Gelaran 1, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasinya masih satu kompleks dengan Wisata Goa Pindul. Kalau yang udah pernah rafting Kali Oyo (Kali dalam bahasa jawa berarti sungai), lokasinya tidak jauh dari lokasi finish rafting, tinggal melintasi jembatan maka akan sampai di Wonosumilir.

Nah karena saya bersama Bapak yang berniat mencari udara segar, kami memutuskan melewati hutan kayu putih sembari melihat pemandangan di sekitaran Kali Oyo. Perjalanan kami lanjutkan dari "Pagi Bersama Bapak di Watu Lumbung, Wisata Alam Bukit Bebatuan Purba Gunungkidul" menuju ke Wonosumilir.


Kalau melihat peta, jalur biru adalah jalur utama atau jalan besar yang merupakan akses menuju tempat-tempat wisata di Desa Bejiharjo (Gunungkidul). Nah garis merah (garis yang saya tambahkan) merupakan jalur yang kami lalui yaitu melewati hutan kayu putih. Bukan hutan belantara lebat yang kaya vegetasi sih. Lebih mirip kawasan pohon kayu putih yang lahannya juga dikelola warga sekitar untuk bercocok tanam. Oleh karena itu bisa dilihat di peta akses jalannya cukup besar karena juga digunakan truk pengangkut daun kayu putih untuk di kelola menjadi minyak kayu putih di pabrik sekitar sini juga.


Walaupun melewati hutan, aksesnya cukup mudah dilalui jika siang hari. Tinggal lurus aja dari Watu Lumbung sampai menemui jembatan di atas sungai (aliran Kali Oyo). 


Setelah menyebrang jembatan, jalanan yang harus dilewati adalah jalan makadam. Lurus saja sampai menemukan persimpangan (kalau gak salah pertigaan ya) ambil yang jalur kiri. Ini masih jalan makadam sih. 


Lurus aja ikuti jalan sambil menikmati pemandangan. Beberapa menit kemudian akan terlihat sebuah gazebo tinggi di atas bukit, nah itu dia Wonosumilir.


Akhirnya sampai di Wonosumilir. Sudah agak siang dan matahari mulai terik. Tidak banyak orang saat saya kesana, hanya anak-anak warga lokal yang cangkrukan sembari mainan tiktok. Hehe. Saya lanjutkan dengan berkeliling dan mengabadikan beberapa gambar serta menikmati pemandangan yang ada bersama Bapak.

Unik dan Asik

Sebenarnya tidak banyak yang saya soroti sih di sini. Secara keseluruhan tempatnya bagus apalagi pemandangannya. Apa aja yang bisa dinikmati disini sepanjang penelusuran saya adalah,

Menara Gardu Pandang


Mungkin ini yang ikonik banget dari Wonosumilir, gardu pandang sederhana yaitu gazebo bertingkat yang berada di atas bukit. Paling banyak digunakan untuk foto dan bersantai. Selain instagenic dan jadi spot foto andalan, dari menara gardu pandang ini kita bisa melihan pemandangan sekitar yang hijau nan asri. Kalau jeli, kita bisa lihat aliran Kali Oyo dari sini. tempat dimana tadi kita sebrangi melalui jembatan saat perjalanan menuju ke sini.

Warung Lesehan atau Pendoopo Acara

Entah baru atau udah lama disini saya melihat bangunan limasan (bentuk rumah khas jawa) yang saya sendiri bingung menentukan lokasi apa ini. Tadinya saya kira pendopo acara untuk kegiatan besama, tapi kok saya perhatikan lagi ada tulisan es buah dan bakso di depannya. Berarti saya simpulkan sebuah warung lesehan apalagi di depannya ada kursi batu yang terlihat seperti tempat makan gitu. Waktu saya kesana emang tidak terlihat penjual makanan karena mungkin masih belum buka atau dampak dari masih adanya PPKM berjenjang ya. Tapi apapun itu saya suka lihat bentuk bangunan klasik yang menambah nilai estetik suatu lokasi wisata.

Akses Jalan Utama yang Menyejukan Mata

Nah, selain akses jalan yang saya lewati, akses jalan utama menuju Bukit Wonosumilir ini gak kalah keren. Setelah masuk Desa Gelaran dan masuk kawasan Bonjing, kita akan disuguhi hamparan sawah yang dikelola dengan baik oleh warga sekitar. Hamparan hijau yang menyejukan mata ditambah suara kicau burung bersautan dan aliran air yang adem banget rasanya. Loasi sawah ini berada di pingiran tepat Kali Oyo, jadi pantas saja kalau hawanya adem dan enak.


Setelah melewati hamparan sawah kita akan melewati jembatan yang unik. Jembatan ini adalah jembatan lokasi finish jika rafting Kali Oyo seperti yang saya bilang di atas. Saya bilang unik karena konstruksinya enggak biasa. Seperti konstruksi jalan cor-blok tapi dengan kayu dan besi. Saya sendiri bilang ngeri kalau dilalui kendaraan roda 4. Tapi selama ini aman-aman aja tenyata. Jadi salah satu tantangan dan menariknya perjalanan menuju Bukit Wonosumilir ini. Sayang sekali tak sempat mengabadikan gambarnya.

Malam-malam Penuh Bintang Bukit Wonosumilir

Yang jadi andalan di Wisata Bukit Wonosumilir ini sebenarnya adalah cangrukan malam harinya. Banyak yang bilang ke saya, "Nek ning Wonosumilir ki bengi yo tambah rame luwih apik". Kalau ke Wonosumilir itu malam hari, tambah rame dan lebih bagus. Memang lokasi ini bagus banget di malam hari. Yang disuguhkan ya langit luas penuh bintang, lampu-lampu, dan teh hangat ditambah gorengan. Tenang, menu kopi juga ada kok. Hehe. Dan paling asik emang kumpul-kumpul (cankrukan) bareng temen dan keluarga menikmati alam dengan hamparan keindahan langit dan semilir angin di tengah hutan Bukit Wonosumilir.

Sayangnya saat saya berkunjung ke sana adalah pagi menjelang siang dan masih dalam waktu PPKM berjenjang. Jadi mungkin feelnya enggak sama saat kesana malam hari ya. Tapi kalau menurut orang-orang dan jadi kesimpulan saya paling enak kesini itu pagi habis subuh sampai matahari terbit dan sore menjelang malam saat matahari terbenam sampai sepanjang malam asal cuaca cerah dan tidak hujan. Hehe. 

Oh iya hampir lupa, disini juga sudah saya temui ada mushola ya. Jadi tak perlu khawatir untuk menjalankan ibadah disini karena sudah difasilitasi. Walau tidak besar, tapi bisa untuk dipakai sholat. Letaknya di sekitaran di depan pintu masuk gardu bertuliskan Wonosumilir.

Tiket Bukit Wonosumilir

Tenang, sampai saat saya ke sana kemarin tidak saya temui pembayaran tiket untuk masuk lokasi. Hanya saja ada biaya parkir untuk kendaraan ya. Kalau gak salah nih Rp 2.000,- untuk sepeda motor dan Rp 5.000,- untuk mobil. Asik banget kan wisata bagus sekaligus murah meriah.

Disini juga ada beberapa lokasi warung yang menyediakan jajan. Seperti yang saya singgung di warung atau pendopo di atas. Selain itu juga ada warung yang berjualan snak dan jajanan ringan. Dan tentunya penjual teh dan gorengan yang menjadi menu andalan di sini apalagi saat dinikmati malam hari. Hampir lupa lagi, kopi tentunya ada juga ya. Hehe.

Tapi ada yang unik yang saya temui waktu berkunjung kemari. Ada barcode QRIS atas nama Koperasi Wonosumilir. Wah  bener-bener keren tempat wisata yang notabene ada di hutan udah bisa scan barcode untuk transaksi pembayaran digital. Selama saya main-main ke wisata di deket-deket rumah, baru ini saya temui yang kayak gini. Atau mungkin saya yang kudet informasi ya. Hehe. Apresiasi banget buat pengelola tempat ini. Semoga semakin maju dan berkah.

Mari Pulang, Marilah Pulang

Udah terik banget waktunya pulang apalagi Si Bayi pasti juga udah bangun. Hehe. Overall perjalanan singkat jalan-jalan tempat wisata "belakang rumah" kali ini menyenangkan apalagi ditemeni Bapak yang jadi patner terbaik sampai saat ini. Perjalanan dari Watu Lumbung menuju Wonosumilir dengan jalur sekali jalan ini mungkin bisa jadi alternatif buat temen-temen yang selain suka dengan tempat wisatanya juga suka dengan cerita perjalanannya. Melalui jalur yang antimainstream dengan pemandangan dan feel yang enggak biasa. Yah, walaupun bisa dibilang saat kunjungan saya bukan waktu yang pas, tetapi saya harap temen-temen bisa nge-plan perjalanannya dengan lebih baik setelah baca cerita perjalanan saya ini.


Oke, cukup sekian ya. Sehat selalu, terima kasih dan salam lestari.