Festival Ludruk 2018 Balai Pemuda Surabaya, Nostalgia Obar Abir 2010


Desember 13, 2018 Balai Pemuda Surabaya. Festival Ludruk digelar mulai pagi hingga sore bersama para peserta yang kebanyakan dari usia sekolah, ada 11 atau 13 peserta kemarin saya lupa dan saya kebetulan melihat 3 peserta tampil karena keterbatasan waktu. Nah, tujuan lain sebenarnya adalah ingin melihat ada apa aja di tiap sudut Balai Pemuda ini. Sayangnya karena masih proses renovasi jadi mungkin beberapa ilustrasi foto agak kurang mengenakan mata dan beberapa penjelasan tata letaknya juga kurang sempurna.

Sampai di Balai Pemuda saat itu sekitar pukul 10 saya tak langsung menuju lokasi festival, saya sejenak megelilingi bagian dari Balai Pemuda ini. Jadi ceritanya saya balik ya, keliling dulu baru nonton ludruk. Oke, karena proses renovasi sedang berjalan, jadi mungkin kurang maksimal.

KELILING BALAI PEMUDA SURABAYA

Surabaya Tourism Information Center

Kalo yang pernah naik bus SSCT nah disini ini tempat reservasi on the spotnya. Selain itu tempat ini juga jadi pusat informasi tentang apa-apa yang ada di Balai Pemuda dan sesuai namanya juga sebagai pusat informasi turis ketika sedang berkunjung ke Surabaya. Dlemnya sih bagus tapi saya gak sempet masuk, cuma ngeliat dari kaca luar saja.


Ruang Teather

Nah di gedung ini juga terdapat ruang teather yang sering dipakai pertunjukan tiap malem minggu itu lho. Saya pernah masuk ke sini dan ngelihat teathernya SMK 12 Surabaya. Keren, ruangannya juga adem dan kursinya kayak nonton bioskop. Bagus lah pokoknya.


Perpustakaan Umum Kota Surabaya

Di sebelahnya adalah Perpustakaan Kota Surabaya. Gak sempet masuk tapi terlihat dari luar ruangannya enak sih, cuma gak tahu koleksi bukunya gimana, karena kemarin gak sempet masuk.


Bagunan Lawas Gedung Balai Pemuda


Keliling ke bagian selatan gedung, ini bangunan bergaya eropa mirip mahkota ratu dengan pintu kayu khas yang menjulang tinggi ditambah ormanen bingkai pintu yang khas dengan gaya eropa. Mungkin bangunan ini masih asli. Ruangan tertutup tetapi saya menemuka tulisan, "Dewan Kesenian Surabaya" di bagian luar atas. Mungkin kantor atau semacamnya lah saya juga kurang paham.


Nah ini yang paling keren menurut saya. Dulunya tempat pertemuan, pesta dansa, minum teh, intinya pusat kumpulnya kaum elite dan rakyak pribumi (sebutan waktu itu) dilarang untuk masuk ke tempat ini. Itu dulu. Sekarang mah bebas siapa aja boleh masuk agar tetap sopan dan tertib.



Sekarang ini sementara proses renovasi sebagian aula ini digunakan sebagai masjid (Assakinah), tetapi tetap terlihat aula utama dengan pilar dan bagian atap yang khas gedung mewah bergaya eropa jaman kolonial dulu.


NONTON FESTIVAL LUDRUK TAHUN 2018

Sebagai pemuda yang keren, nguru-uri kabudayan itu musti dilakukan. Ludruk, saat ini jelas kalah tenar daripada Youtube. Tapi mungkin ada sisi lain dari pelaku dan penikmat ludruk. Disini semua berinteraksi, belajar, dan mengekspresikan diri masing-masing secara langsung dan bebas dalam batasan-batasan yang normal tentunya.


Saya pribadi pernah mengikuti kegiatan teater di sekolah waktu SMK dulu. Beberapa kali ikut event dan memang kelihatan jadul kalau dilihat secara globlal. Tapi kalau kita berada di lingkungannya, kegiatan seperti itu keren banget lho apalagi bisa main juga di event besar.

Balik lagi ke Festival Ludruk yang saya liat ada 3 penampilan bertema, "Salah Kaprah", "Sesat", "Joko Tarub". Bukan itu sih yang tertulis di listnya pembawa acara, cuma yang saya tangkap dari jalan ceritanya ya itu. Kalau sana nilai sih bagus, aktingnya juga loss dan gak keliatan grogi. Bisa lepas walaupun ada beberapa yang masih kelihatan kurang lepas. Yang disayangkan yaitu dari ketiga penampil, gak ada yang waktunya pas selesai dengan waktu tampilnya. kebanyakan mereka kurang padat, jadi waktu udah habis, eh ceritanaya belum selesai. Mungkin itu terjadi di beberapa aja, kebetulan pas yang saya lihat begitu.


Satu lagi yang menarik perhatian saya adalah team gamelannya (karawitan). Ini juga salah satu yang saya suka. Dulu jaman SD saya pernah megang bonang, beberapa kali maen demung, gendher, clintis. Kalo nge-gong, kendang, sana kenong nya saya mah kurang jago. Hehe. Tapi dulu mainnya cuma tembang belajaran yang cuma beberapa bait aja. Sekarang jelas udah lupa.


Tapi overall bagus lah kegiatan seperti ini, jadi nostalgia kan. Bahkan saya lihat simbah yang udah umur juga antusias banget liatnya. Malah duduk paling depan. 


NOSTALGIA

Jadi ikutan nostalgia di 2010, 8 tahun silam. Hahaha. Oke mungkin sedikit saya tampilkan foto kegiatan tather yang pernah saya ikuti. Waktu itu SMK sekitar tahun 2009 - 2011. Gak seberapa keren sih, tapi jadi unforgetable moment saya. Adalah Team Obar Abir SMK N 2 Wonosari, Yogyakarta.

Pentas Seni "Roro Mendat Mendhut" dalam rangka hari jadi Kabupaten Gunungkidul

Teather "Pak Tani Nyolong Timun"

Teather "Pak Tani Nyolong Timun" ditambilkan pada Festival Seni Internasional 2010, Yogyakarta

Share:

2 comments:

  1. Wah aku blom pernah loh masuk bangunan lawas Balai Pemuda. Ternyata dalemnya ada pilar2 tinggi gt yaaa.

    Asiknya liat ludruk dan menuliskannya kayak gini. Karena kesenian itu jarang ditulis dan difoto. Esok belum tentu kesenian ludruk masih ada lagi,entaahlah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena sejak SMK mainanya udah kek gitu sampek sekarang seneng aja bisa nostalgia lagi. Semoga masih tetep bertahan dan mengikuti perkembangan zaman. Daripada yang di tipi tipi, apa enggak bosen? Hehe

      Delete