8

Traveling Saya Sepanjang 2018 - #1 (Adventure)


Ngomong traveling kayaknya terlalu muluk deh, mungkin saya ganti jalan-jalan aja. Sepanjang 2018 ini saya lebih banyak menghabiskan waktu City Trip. Saya pikir kenapa tidak, tahu banyak tentang sebuah kota juga bagian dari jalan-jalan dan belajar juga kan? Bukan tujuannya yang penting, tapi perjalanannya, prosesnya. Aseeek. Wis, langsung saja silahkan.

2

Traveling Saya Sepanjang 2018 - #2 (City Trip)



Sebelum city trip ini, ada cerita saya di 2018 tentang Adventur yang dapat dilihat di sini, tak seberapa banyak tapi cukup menarik menurut saya.

Traveling Saya Sepanjang 2018 - #1 (Adventure)
CITY TRIP SURABAYA

City trip ini gak sehari gitu lho. Saya beberapa kali saat libur mencoba explore tempat dimana selama beberapa tahun belakangan ini saya menetap. Surabaya, kota sederhana yang apa adanya. Keren, berprestasi, nyaman, dan asik. Banyak yang bisa di eksplore mulai dari sejarah, kuliner, museum, kampung, mall, ruang terbuka hijau, ruang diskusi, dan lain sebagainya.

1

Ramah Untuk Pemula, Lomba Menulis Blog DUMET School, Ayo Ikutan

"Ramah Untuk Pemula", kalimat pembuka yang rasanya cocok untuk memulai tulisan ini. Iya, Lomba Menulis Blog DUMET School. Kenapa saya bilang ramah untuk pemula? Karena persyaratan yang mudah, tidak ribet, deadline yang jelas, hadiahnya jelas, dan ada di tiap bulan. Intinya Lomba blog yang jelas dan anti ribet-ribet club. Makanya saya bilang, "Ramah Untuk Pemula". Jadi, tunggu apalagi? Ayo Ikutan!

2

Hunting Kampung Melayu dan Pecinan Followers LoveSuroboyo



Lagi seneng-senengnya ngulik tentang Surabaya. Apalagi banyak temenya. Jadi sekalian bisa sharing, ngobrol, bercanda dan ketawa bareng. Bareng mimin LoveSuroboyo, Followers LoveSuroboyo kemaren hunting Kampung Melayu. Mimin sih bilang hunting, saya tulis aja hunting. Lebih suka ngomong blusukan, tapi lewat-lewat tok. Kalo hunting, foto-foto tok, tapi ini ada belajarnya, ada penjelasan sejarahnya. Sudahlah, terserah saja ya. langsung mari lihat kemana aja kami setengah harian ini.

TAMAN SEJARAH SURABAYA

Minggu telah tiba dan saat itu pagi rombongan telah berkumpul di Taman Sejarah. Entah brefing seperti apa yang dilakukan, karena saya datang terlambat (jangan ditiru), ikut aja nimbrung rombongan setelah sedikit bertegur sapa dengan teman-teman yang kemriyek di grup sendari kemaren.

Foto By Muhammad Nafilil Achator

JEMBATAN MERAH

Udah banyak disinggung dan literasinya juga udah banyak tentang Jembatan Merah ini. Jembatan biasa sih, cuma seantero Surabaya juga tahu gimana nilai historisnya jembatan ini. Kami foto bareng di sini, dan beruntung ada Bapak Anton ( Rachmad Juliantono ) yang dengan senang hati jeprat jepret sekaligus jadi yang dituakan pada kegiatan ini. Atau bisa saya sederhanakan Narasumber mungkin atau yang bisa ditanya - tanya atau yang siap bagi - bagi cerita dan ilmu lebih enaknya.

Foto By Rachmat Juliantono

MENARA PANDANG KALIMAS

Sebelumnya di grup sih bahasnya menara Syahbandar. Setahu saya Syahbandar mah yang ngurusin perijinan dan pengawasan soal kapal? Kenapa menaranya ada di tengah kota? Mungkin dulu sebagai pengawas aktivitas kapal di sekitar Sungai Kalimas situ.
Foto By Rahmad Juliantono

Yang menarik, walaupun bangunan dibangun oleh Belanda, tapi terdapat lambang Suroboyo di bangunan tersebut. Lambangnya sih sekedar ikon suro sama boyo aja. Ditafsir mungkin itu adalah lambang kota Surabaya pada zaman dulu pas masih dalam bentuk karesidenan. Usia bangunan ini jelas udah ratusan tahun, tapi terlihat masih kokoh, menjulang tinggi dan panjang ke belakang.


KAMPUNG MELAYU JALAN PANGGUNG

Panggoeng Soerabaia 1913 (Source : NV v/h H van Ingen dalam "Kota di Djawa Tempo Doeloe")

Nah foto diatas adalah Jalan Panggung jaman dulu. Salah satu etnis yang bermukim di sini adalah Melayu. Pendatang melayu memiliki tradisi membangun rumah di atas sebuah panggung. Saat ini, bangunan rumah panggung warga setempat yang dulu menjulang tinggi telah berganti dengan pertokoan dan pembangunan jalan. Nah mungkin nama Jalan Panggung itu ya diambil dari kawasan di sini yang merupakan bangunan dengan banyak rumah panggung.

Foto By Edoniar Jery Pratama

Nah disini spot foto yang menarik menurut saya. Karena rumahnya di cat warna warni jadi fotonya juga bisa jadi bagus. Ditamabah dapet ilmu baru dari Bapak Anton, yaitu teknik foto refleksi. Pake media air untuk menangkap foto pantulannya, terus dibalik aja kameranya jadi mbois deh. Hehe, simple kan.
 

Ngomong-ngomong bangunan warna warni di Jalan Panggung ini jadi kontroversi juga. Dari kalangan sejarawan (Sumber Bapak Rony), ada yang tak setuju dengan pengecetan kampun tersebut dengan warna yang beragam. Dinilai hal ini akan merusak marwah dari kampung tersebut dan tak relevan dengan kawasan sejarah.

JALAN KARET


Dahulu kala (jaman Hindia Belanda), Surabaya dibagi menjadi 2 wilayah yang dipisahkan oleh Sungai Kalimas yaitu Barat yang dihuni kaum elit eropa dan sebelah Timur yang dihuni kaum pribumi (termasuk etnis Melayu, China, dan Arab). Nah di Jalan Karet ini dulunya dihuni oleh etnis China. Kalo pernah lewat sini perhatiin sekeliling bangunannya khas China, tapi sepi seperti yang tak berpenghuni dan tua banget. Banyak juga bangunan bertuliskan "Rumah Abu" milik keluarga yang berbeda - beda. 

PT. Bima Alfa


Koprasi Bank Pasar Niaga


Rumah Abu Keluarga Han


Rumah Abu Keluarga Han ini digunakan untuk kegiatan bersembahyang dan menghomati leluhur dari keluarga bermarga Han. Dahulunya rumah ini merupakan rumah Kapitein De Chineezen, Han Bwee Ko. Kapiten der Chineezen Yaitu wakil pemerintah kolonial Belanda untuk menjadi pemimpin orang-orang Tionghoa di Surabaya. Han Bwe Koo sendiri merupakan keturunan ke-6 dari Keluarga Han.

Rumah Abu Keluarga The


Rumah abu Keluarga The ini awalnya bernama “Vereeniging The Goa Tjing didirikan oleh keempat anak majoor The Goa Tjing pada 13 November 1883 dengan tujuan mempersatukan keluarga besar “The”. The Goa Tjing adalah tokoh masyarakat Cina di surabaya, sampai saat ini rumah abu keluarga The tetap dipimpin keturunan The yaitu Wiidiyanto Theja S.H.

JALAN GULA


Jalan gula ini hanya berupa gang kecil yang diapit tembok bangunan gedung tua. Keliatan tembok-tembok yang emang bikin hasil foto ala-ala lokasi tua jaman dulu. Tone warna yang dihasilkan juga orang bilang ala-ala vintage gitu. Disini rame apalagi kalo weekend, cuma sekedar mau foto aja. Sampai - samapai kemaren ketemu sama rombongan dari sma mana gitu saya lupa dari Lamongan pokoknya yang jauh-jauh ke sini cuma buat foto untuk buku kenangan akhir tahun.


JALAN COKELAT

Berada di sebelah Jalan Gula, gang nya lebih lebar. Beda sama Jalan Gula, jalan lebih besar dan kalo saya bilang bukan gang karena jalannya lebar. Bangunan di sekitarnya pun rata - rata terasnya luar, jadi jarak antara jalan sama pintu bangunan itu jauh. Jalan biasa sih cuma kok rasanya lebih teduh. Bangunan sekitarnya sih terbilang gak terlalu tua atau se tua bangunan di Jalan Karet. Kelihatannya lho ya, atau gak tau mungkin bangunan di sini lebih terawat.


KLENTENG HOK AN KIONG


Nah disini kita belajar sedikit tentang budaya, Klenteng Hok An Kiong ini infonya adalah klenteng tertua di Surabaya. Ada yang nyebut Klenteng Coklat juga karena lokasinya ada di Jalan Coklat. Kita akan disambut sebuah wadah besar yang berisi dupa yang mungkin digunakan untuk ritual keagamaan juga, lalu di pintu masuk ada patung khas Tiong Hoa (saya kurang paham itu dewa atau panglima perang). Yang menarik di tembok kanan kiri ada lukisan yang menceritakan suatu hal berkaitan tentang budaya atau sejarah Tiong Hoa (saya juga kurang paham). Hehe.


Dulu, lahan di daerah tersebut merupakan tanah lapang yang kerap digunakan sebagai tempat persinggahan anak buah dari perahu-perahu tongkang yang datang dari Tiongkok. Umumnya, mereka datang dengan membawa serta patung Makco atau Ma Co Po, dewi pelindung para pelaut dan nelayan, untuk disembahyangi di lokasi persinggahan yang seadanya. Kemudian sebuah perkumpulan Hok Kiau, yaitu Hok Kian Kiong Tik Soe merasa iba dengan para awak kapal tongkang atau jung yang sedang berisitirah di bedeng yang seadanya. Lalu, perkumpulan ini berinisiatif membangun sebuah tempat yang layak bagi awak kapal itu. Pada tahun 1830 mulai dibangun klenteng serta ruangan yang luas agar mereka bisa beristirahat atau menginap dengan baik. Pembangunan klenteng ini didanai oleh Ong Pan Liong, Mayor The Boen Hie, Mayor The Thwan Ing, Tjhoa Sin Hie, Letnan Tan Tjien Oen, Tjia Tjian Tiong, dan masih banyak lagi.

Selesai. Mungkin sekitar jam 11 siang acara udah selesai dan kami kembali ke Jembatan Merah. Nah disana ada yang pamit pulang duluan, ada yang mau naik Bus Tayo (Suroboyo Bus). Sambil nunggu bus kami blakra'an (istirahat sebentar) di trotoar di depan Polrestabes Surabaya. Sambil ngobrol dan bercanda - canda bareng. Sampe hampir jam 12 siang 2 kali bus lewat dan penuh semua akhirya kami putuskan bubar sendiri - sendiri. Hehe.


KESAN DAN PESAN

Seneng bisa ikut kumpul, ketawa bareng, ngobrol asik, belajar juga (sejarah, foto, dll). Acara positif yang baiknya diadain sering-sering daripada tidur-tiduran di kost aja (itu saya). Temen - temen yang asik, sopan, ramah, dan gak duwe isin (malah ngisin - ngisini). Hehe. Ada yang diem aja mojok di pojokan kayak uji nyali. Pokonya beragam deh, tapi tetep grapyak semua, asik semua.

TEAM PERJALANAN

Team perjalanan kali ini adalah

Mas Shandy Setiawan selaku mimin nya LoveSuroboyo penggagas acara ini, Bapak Anton, mungkin saya sebut pembina acara hari ini gitu aja kali ya biar lebih gampang, Temen - temen Followers LoveSuroboyo yang hadir baik saya kenal atau tidak yang saya pasti kesulitan kalo sebut satu - satu, kalian mbois pol.


TERIMA KASIH

2

Wisata Mangrove Gunung Anyar, Amazon van Surabaya


Karena yang muncul di kepala saya pertama kali adalah Amazon, makan tercetuslah kalimat, "Amazon van Surabaya". Berlebihan? Padahal belum pernah ke Amozon. Tempat paling mirip di Surabaya berdasarkan lihat internet, ya disini. Makanya saya sebut, Amazon van Surabaya. Sudahlah, iyain aja. Ini bagian dari kreatifitas seorang penulis. Kalau mau komplain atau ada judul yang lebih bagus, bolehlah tulis di kolom komentar. Hehe.
2

Festival Ludruk 2018 Balai Pemuda Surabaya, Nostalgia Obar Abir 2010


Desember 13, 2018 Balai Pemuda Surabaya. Festival Ludruk digelar mulai pagi hingga sore bersama para peserta yang kebanyakan dari usia sekolah, ada 11 atau 13 peserta kemarin saya lupa dan saya kebetulan melihat 3 peserta tampil karena keterbatasan waktu. Nah, tujuan lain sebenarnya adalah ingin melihat ada apa aja di tiap sudut Balai Pemuda ini. Sayangnya karena masih proses renovasi jadi mungkin beberapa ilustrasi foto agak kurang mengenakan mata dan beberapa penjelasan tata letaknya juga kurang sempurna.

Sampai di Balai Pemuda saat itu sekitar pukul 10 saya tak langsung menuju lokasi festival, saya sejenak megelilingi bagian dari Balai Pemuda ini. Jadi ceritanya saya balik ya, keliling dulu baru nonton ludruk. Oke, karena proses renovasi sedang berjalan, jadi mungkin kurang maksimal.

KELILING BALAI PEMUDA SURABAYA

Surabaya Tourism Information Center

Kalo yang pernah naik bus SSCT nah disini ini tempat reservasi on the spotnya. Selain itu tempat ini juga jadi pusat informasi tentang apa-apa yang ada di Balai Pemuda dan sesuai namanya juga sebagai pusat informasi turis ketika sedang berkunjung ke Surabaya. Dlemnya sih bagus tapi saya gak sempet masuk, cuma ngeliat dari kaca luar saja.


Ruang Teather

Nah di gedung ini juga terdapat ruang teather yang sering dipakai pertunjukan tiap malem minggu itu lho. Saya pernah masuk ke sini dan ngelihat teathernya SMK 12 Surabaya. Keren, ruangannya juga adem dan kursinya kayak nonton bioskop. Bagus lah pokoknya.


Perpustakaan Umum Kota Surabaya

Di sebelahnya adalah Perpustakaan Kota Surabaya. Gak sempet masuk tapi terlihat dari luar ruangannya enak sih, cuma gak tahu koleksi bukunya gimana, karena kemarin gak sempet masuk.


Bagunan Lawas Gedung Balai Pemuda


Keliling ke bagian selatan gedung, ini bangunan bergaya eropa mirip mahkota ratu dengan pintu kayu khas yang menjulang tinggi ditambah ormanen bingkai pintu yang khas dengan gaya eropa. Mungkin bangunan ini masih asli. Ruangan tertutup tetapi saya menemuka tulisan, "Dewan Kesenian Surabaya" di bagian luar atas. Mungkin kantor atau semacamnya lah saya juga kurang paham.


Nah ini yang paling keren menurut saya. Dulunya tempat pertemuan, pesta dansa, minum teh, intinya pusat kumpulnya kaum elite dan rakyak pribumi (sebutan waktu itu) dilarang untuk masuk ke tempat ini. Itu dulu. Sekarang mah bebas siapa aja boleh masuk agar tetap sopan dan tertib.



Sekarang ini sementara proses renovasi sebagian aula ini digunakan sebagai masjid (Assakinah), tetapi tetap terlihat aula utama dengan pilar dan bagian atap yang khas gedung mewah bergaya eropa jaman kolonial dulu.


NONTON FESTIVAL LUDRUK TAHUN 2018

Sebagai pemuda yang keren, nguru-uri kabudayan itu musti dilakukan. Ludruk, saat ini jelas kalah tenar daripada Youtube. Tapi mungkin ada sisi lain dari pelaku dan penikmat ludruk. Disini semua berinteraksi, belajar, dan mengekspresikan diri masing-masing secara langsung dan bebas dalam batasan-batasan yang normal tentunya.


Saya pribadi pernah mengikuti kegiatan teater di sekolah waktu SMK dulu. Beberapa kali ikut event dan memang kelihatan jadul kalau dilihat secara globlal. Tapi kalau kita berada di lingkungannya, kegiatan seperti itu keren banget lho apalagi bisa main juga di event besar.

Balik lagi ke Festival Ludruk yang saya liat ada 3 penampilan bertema, "Salah Kaprah", "Sesat", "Joko Tarub". Bukan itu sih yang tertulis di listnya pembawa acara, cuma yang saya tangkap dari jalan ceritanya ya itu. Kalau sana nilai sih bagus, aktingnya juga loss dan gak keliatan grogi. Bisa lepas walaupun ada beberapa yang masih kelihatan kurang lepas. Yang disayangkan yaitu dari ketiga penampil, gak ada yang waktunya pas selesai dengan waktu tampilnya. kebanyakan mereka kurang padat, jadi waktu udah habis, eh ceritanaya belum selesai. Mungkin itu terjadi di beberapa aja, kebetulan pas yang saya lihat begitu.


Satu lagi yang menarik perhatian saya adalah team gamelannya (karawitan). Ini juga salah satu yang saya suka. Dulu jaman SD saya pernah megang bonang, beberapa kali maen demung, gendher, clintis. Kalo nge-gong, kendang, sana kenong nya saya mah kurang jago. Hehe. Tapi dulu mainnya cuma tembang belajaran yang cuma beberapa bait aja. Sekarang jelas udah lupa.


Tapi overall bagus lah kegiatan seperti ini, jadi nostalgia kan. Bahkan saya lihat simbah yang udah umur juga antusias banget liatnya. Malah duduk paling depan. 


NOSTALGIA

Jadi ikutan nostalgia di 2010, 8 tahun silam. Hahaha. Oke mungkin sedikit saya tampilkan foto kegiatan tather yang pernah saya ikuti. Waktu itu SMK sekitar tahun 2009 - 2011. Gak seberapa keren sih, tapi jadi unforgetable moment saya. Adalah Team Obar Abir SMK N 2 Wonosari, Yogyakarta.

Pentas Seni "Roro Mendat Mendhut" dalam rangka hari jadi Kabupaten Gunungkidul

Teather "Pak Tani Nyolong Timun"

Teather "Pak Tani Nyolong Timun" ditambilkan pada Festival Seni Internasional 2010, Yogyakarta

6

Gowes Bukan Kaleng - Kaleng Bukit Ular Citraland



Berawal dari ajakan seorang teman, saya memutuskan untuk mengisi waktu liburan kali ini untuk bersepeda ria (Gowes). Ditambah memang sudah lama saya tak menggerakan badan. Rasanya kangen sekali dengan keringat. Memilih waktu sore hari, kami pun berangkat dari start point Polisi Istimewa, Surabaya.
0

Delta Force Refresing Offroad And Charity


Sebagai wujud rasa syukur bisa bergabung menjadi keluarga besar PT. Terminal Petikemas Surabaya (PT. TPS), kami junior Group D PT. TPS dibantu dengan beberapa senior berinisiatif membuat acara syukuran bertajuk refresing seluruh anggota Grup D (Delta Force). Setelah melalui beberapa diskusi akhirnya tercetuslah kegiatan Offroad. Tak sekedar refresing dan senang-senang, disini kami juga menyelipkan sebuah misi sosial kecil-kecilan yaitu bakti sosial. Dan akhirnya tercetuslah kegiatan Delta Force Refreshing Offroad And Charity dengan tujuan Batu, Jawa Timur.
6

Heritage Hotel Tour, Hotel Majapahit Surabaya



Beberapa hari yang lalu saat ada tawaran menarik untuk ikut keliling hotel Majapahit ini, saya lalu berfikir, teman-teman di Surabaya tertarik sekali dengan hotel yang satu ini. Baru 2 tahun belakangan ini saya paham secara detail ternyata hotel ini menjadi saksi bisu peristiwa 19 September 1945, Insiden Perobekan Bendera yang beberapa orang salah kaprah peristiwa ini teradi di 10 November bertepatan Hari Pahlawan. Ini salah ya, Insiden Perobekan Belanda terjadi pada 19 September 1945 di Hotel Yamato, yang sekarang berubah nama menjadi Hotel Majapahit ini.
6

Blusukan Gedung Singa, Gedung Misterius Kawasan Kampung Eropa Surabaya


Menjadi bangunan paling misterius di sepanjang kawasan Kampung Eropa Surabaya, gedung ini terlihat sebagai bangunan tak berpenghuni biasa peninggalan jaman kolonial. Tetapi setelah melihat 2 patung singa bersayapnya seketika saya langsung penasaran ada apa di dalamnya. Kebanyakan bangunan Cagar Budaya di Surabaya tak ada yang semisterius ini.


Adalah Gedung Singa. Jelas kenapa disebut Gedung Singa karena 2 patung singa di depan pintu bangunan ini. Bukan hanya simbol, mungkin secara arti tertentu patung tersebut benar-benar "penjaga", seperti bangunan candi dengan dwarapalanya sebagai simbol penjaga candi. Atau mungkin hanyalah ornamen untuk mempercantik bangunan tersebut. Siapa yang tahu. Entahlah.

AKSES DAN LOKASI

Gedung ini berada di kawasan Kampung Eropa Surabaya tepatnya di Jalan Jembatan Merah No. 19-23, Surabaya. Tak jauh dari belokan arah Jembatan Merah menuju Tugu Pahlawan, sebelah kanan jalan akan terlihat gedung tua dengan dua patung singa bersayap di depannya.


SEJARAH BANGUNAN

Gedung ini dibangun tahun 1901 oleh seorang arsitek terkenal Hendrik Petrus Berlage (Amsterdam, 21/02/1856 - Den Haag, 12/08/1934) yang juga mendesain Gedung De Nederlanden Van yang berada di Jakarta dan pernah menjadi konsultan pemerintah Hindia Belanda dalam proyek restorasi Candi Prambanan. Disebutkan pada buku “Budaya Visual Indonesia”, Algemeene Maatschappij van Levensverzekering en Lijfrente (Gedung Singa ini) adalah karya pertama Hendrik Berlage di Hindia Belanda yang dikerjakannya pada 1900. Sedangkan peletakan batu pertama dilakukan oleh Jan Von Hemert pada 21 Juli 1901.


Algemeene Maatschappij van Levensverzekering en Lijfrente merupakan Perusahaan Umum Pertanggungan Jiwa dan Anuitas Jiwa, sebuah perusahaan asuransi jiwa terbesar di Belanda yang didirikan pada 1880 namun kemudian bangkrut pada 1921. Perusahaan yang pertama kali menempati gedung ini. Kemudian ditempati PT. Aperdi Djawa Maluku yang merupakan perusahaan yang bergerak di bidang listing. Itulah kenapa gedung ini sering juga disebut Gedung Aperdi.


Lalu terakhir ditempati sebagai kantor PT. Asuransi Jiwasraya yang sampai saat ini hak kepemilikan bangunan ini adalah kepunyaan dari PT Asuransi Jiwaasraya.

DESIGN BANGUNAN

Bangunan ini bergaya Art Nouveau (aliran seni yang dipandang sebagai suatu gaya seni total yang merangkul arsitektur, seni grafis, desain interior, dan sebagian besar seni dekoratif) dengan beberapa lengkungan bata merah khas Berlage.

Terlihat ornamen yang khas dari bangunan ini, sebuah lukisan yang cukup unik dan misterius. Lukisan tersebut menampilkan seorang ibu Eropa dan seorang ibu Jawa yang sama-sama menggendong anaknya dimana di tengahnya duduk seorang seperti penguasa di antara kedua ibu tersebut. Lukisan tersebut merupakan karya seniman bernama Jan Toorop (Purworejo, 20/12/1858 - Den Haag, 03/031928).

Secara garis besar, bangunanya terlihat gagah, 2 patung singa penjaga pintu di tengah dan diapit 2 pintu lengkung yang berukuran lebih besar, naik ke atas sebuah balkon di kanan dan kiri yang dapat melihat langsung pemandangan sungai kalimas dan jembatan merah. Di bagian tengah yaitu lukisan misterius karya Jan Troop, naik sedikit sebuah tiang berdera mengacung ke depan. Bangunan paling atas dengan design lancip terdapat jendela tengah dan kaca samping kanan kiri, khas bangunan lawas eropa. Menurut saya bangunan yang sangat keren karena kesimetrisannya yang secara subyektif saya memang suka.

BLUSUKAN GEDUNG SINGA

10 Oktober 2018 Kunjungan bersama pegawai pemkot, badan arsip, komunitas pencinta sejarah, pengusaha, dan pihak dari PT. Asuransi Jiwasraya selaku pemilik bangunan berkaitan rencana difungsikannya kembali gedung ini.


Sebuah kesempatan langka bisa masuk salah satu gedung cagar budaya yang aksesnya terbatas. Melihat lebih dalam apa saja yang ada di dalam gedung ini sekaligus memecahkan kemisteriusannya. :) Pertama kali masuk pintu utama nuansa asing dan mencekam terasa di sini, terlebih suasananya agak remang dan satu-satunya pencahayaan adalah dari pintu masuk. Pintu ini langsung akses tangga meuju lantai 2.


Naik tangga lalu terlihat kaca dengan ornamen sebuah lambang khas eropa. Lantai 2 merupakan ruangan tak terawat, berantakan, kotor, dan terbengkalai, tetapi sekilas dasarnya bangunan dan ruangannya masih gagah, luas dan kokoh.


Di gedung ini terdapat sistem gudang lawas yang menurut pemahaman saya, di lantai 1 ada gudang yang aksesnya hanya ventilasi kecil. Di lantai 2 ada sebuah katrol yang digukan untuk mengangkat barang dari bawah ke atas, dan akses menuju lantai 1 ini ya dari tangga di sebelah katrol lawas tersebut.


Saya sedikit gambarkan ruang gedung ini. Pintu utama adalah akses menuju lantai 2 sebuah ruangan kosong, berjalan sedikit ke belakang sebuah ruang dengan lubang memutar di tengah disekat jendela kayu lawas yang dapat dibuka dan kelihatan sebuah ruang terbuka di lantai 1 yang tidak begitu luas tapi cukup menyejukan mata.



Ruang terbuka ini dapat diakses melalui pintu bawah sebelah kanan lantai 1. Di sini juga terdapat gudang yang tembus ke lantai 2 seperti penjabaran di atas. Untuk pintu sebelah kiri karena keterbatasan akses saya kurang tahu kesinambungannya dengan gedung ini. Untuk lebih mudah pemahaman coba dilihat bangunan ini dari luar atau melalui video berikut,


Overall bangunan sebenarnya masih kokoh, bagus dan luas, hanya saja perlu beberapa sentuhan saja. Sejalan dengan pernyataan salah satu warga Belanda yang ikut rombongan, Bapak Boy Marlisa menyatakan bahwa bangunan ini sangat menarik dan cukup terkenal di Belanda. Menurutnya gedung ini memiliki nilai historis yang tinggi berkaitan perkembangan arsitektur negaranya. Beliau juga mengatakan jika gedung ini kembali difungsikan tidak menutup kemungkinan akan banyak warga Belanda yang mengunjungi gedung ini.


Menuju balkon lantai 2 dan melihat keluar bangunan ini, tatapan saya mengarah pada Jembatan Merah dan Sungai Kalimas. Seketika saya berfikir, menyelami mesin waktu dan secara virtual berada di bangunan ini 73 tahun silam. Melihat secara langsung perjuangan arek-arek Suroboyo dalam pertempuran 10 November, hari ini 73 tahun silam. Bangunan ini menjadi saksi bisu, melihat secara langsung peristiwa besar di negara tercinta ini. Perjuangan para pahlawan berkorban nyawa untuk kenyangnya perut dan nyenyaknya tidur kita hari ini. Terheninglah beberapa saat dan mari mengheningkan cipta. Al -Fatihah.


Oh iya, Selamat Hari Pahlawan. Gara-gara ngomongin Cagar Budaya jadi inget sejarah kan, jadi ingat 10 November. Mesin waktu yang benar-benar ampuh. Mari menjadi pahlawan, tak perlu terlalu besar dulu, jadi pahlawan untuk diri sendiri dan orang-orang tercinta di sekitar kita. :)


Surabaya dengan segudang Cagar Budaya yang ada, tempat kita belajar, mesin waktu yang keren untuk kita kembali mengingat apa yang orang-orang terdahulu lakukan untuk kita, dan menumbuhkan spirit kita melakukan timbal balik dan meneruskannya kepada anak cucu kita.